Posts

Showing posts with the label Cerpen

Untuk sepotong hati

Gelak renyah tawa itu perlahan mulai menghilang. Mungkin sudah terbawa hembusan angin entah kemana. Atau hanyut terbawa aliran hujan yang muaranya tak pasti kemana. Semuanya seperti tak berbekas, membias tanpa jejak. Bahkan jangan harap aku mampu memungut sisa-sisa bahagia yang pernah tercipta dulu. Karena kisah itu sudah usai sejak beberapa waktu yang lalu. Senja itu aku menelurusi lorong jalan tempat biasa kita bertemu, tak ada jejakmu sore itu. Bahkan aroma parfummu yang kerap menyengat, memenuhi seisi lorong pun kini sudah tak lagi tercium wanginya. Jejakmu menghilang terbawa angin yang berhembus di kelokan jalan. Langkahku terhenti tepat dimana kamu pernah mencium keningku dalam-dalam. Aku merasakan udara begitu hangat kala itu, menyatukan rindumu dan rinduku yang telah lama tak bertaut. Ah ya itu dulu, saat kata cinta masih meluncur manis dari bibirmu. Saat sebab bahagiaku adalah kamu. Kini semuanya telah berbeda setelah beberapa waktu kamu pergi bersama kenangan yang masih kamu...

kisah nyata si pemulung receh

Kisah nyata tentang perjuangan si pemulung receh. Sore itu sepulang sekolah, saya dengan kondisi badan yang sangat lelah sehabis berjalan kaki dari lampu merah menuju rumah. Belum sempat mengelah nafas sembari berbaring meluruskan pinggang, ibu mengajakku untuk pergi ke pesta rakyat di desa sebelah.   Awalnya saya ingin menolak ajakan beliau namun karena kecintaan saya kepadanya akhirnya sayapun mengindahkannya, sekedar menemani ibu tercinta melihat keramaian disana. Sepanjang jalan saya hanya menahan rasa letih yang mendera sedari tadi, namun di tengah perjalanan saya melihat seorang kakek tua peminta-minta tengah menadahkan tangannya di tengah jalanan yang becek dan ramai. Terbersit sekilas bayangan dipikiranku jika kakek tua peminta-minta itu adalah bapakku, mungkin saat ini saya adalah seseorang dengan kadar rasa syukur yang minim. Saya tau meskipun kedua orang tuaku bukanlah seseorang dengan harta yang bergelimang atau tahtah yang menyilaukan mata namun saya harus tet...

Airmata si pendosa

Senja kini telah menjemput gelapnya. Di ujung penantian dan perjuangan yang melelahkan aku seperti kehilangan tumpuan. Entah hal apa yang membawaku ke tempat ini. Kakiku melangkah seperti tak terkendali. Ada kehausan hati yang menggiringku kesini. Ya, pada akhirnya aku akan kembali ke tempat ini tanpa kusadari. Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Allahu Akbar Panggilan Tuhan seperti menghipnotis langkahku lagi. Hendak mengajakku menepi dari keramaian dunia yang tak abadi. Tak biasanya aku kesini. Ada kesejukan yang menyirami hati. Menghilangkan dahaga terhadap kasih ilahi. Aku seperti telah diperbudak waktu, otakku telah mati membeku, kaku dan hatiku telah keras membatu. Aku terlalu angkuh, hingga Tuhan sudah merindu sebab aku selalu tak tahu waktu. Ya Tuhanku masih pantaskah aku terduduk di pergelaran panjang-Mu. Sebab dosaku sudah bercucu seribu.

Apa kabar, Nek?

Mentari masih bersembunyi manja dibalik sang mega. Hanya selendang selendang jingganya yang berani merayu pagi. Kristal-kristal embun pun serasa enggan meninggalkan pucuk dedaunan. Namun di sana di ujung tempat di pinggir jalan sana. Selalu ada raga yang tengah terbangun mengais rizkinya. Meski udara masih begitu nakal menusuk kulit, namun nenek tua dengan kulitnya yang keriput tak pernah mempedulikannya. Di atas bak sampah yang lembab dan bau ia masih mengorek-ngorek haknya. Mencari rizki di atas sisa sisa konsumsi manusia. Penciumannya mungkin sudah terbiasa dengan aroma busuk dan lalat lalat kotor. Ia tak pernah tau atau bahkan tak pernah mau tau bahwa disana di tempat ia mencari rizkinya terdapat beribu penyakit yang mampu menyerangnya. Ia hanya tak mau berpangku tangan meminta belas kasih dari yang lain. Baginya selama ia masih bisa bertahan hidup dengan rizki yang halal apapun itu asalkan perut dan kebutuhan hari ini terpenuhi. Nenek dengan usia senjanya selalu mampu melakukan a...

The True Love

Pipinya memerah, bengkak dan sakit; akibat belaian panas dari kedua saudaranya. ia hanya menunduk. entahlah apakah ia memang telah benar benar merasa bersalah atau enggan untuk berkomentar. "abang nggak pernah ngajarin kamu jadi preman, yang suka mabok mabokan, kabur kaburan dan jadi sampah masyarakat kayak gini!! bikin malu keluarga!!" terdengar samar suara kemarahan dari balik kamar. ia masih tetap menunduk, tak sepatah katapun meluncur dari mulutnya yang beraroma alkohol. entahlah aku tak mengerti dengan jalan pikirannya. dia telah berbeda. tak seperti lelaki yang aku kenal. ia berubah semenjak airi meninggalkan persahabatan kita dan juga farhan. aku tertegun, langkahku terhenti, air mataku tak lagi dapat ku bendung. dari balik lorong kamar aku masih mengharapkan agar farhan baik baik saja. sore itu farhan benar benar merasakan panasnya amarah kedua kakanya. mungkin saat itu ia tak pernah lagi merasakan pelukan hangat dari sebuah keluarga. "tak tak tak" terden...

dinamika kehidupan

Kenapa saat saya tumbuh dewasa? “walah dek rizkimu memang susah, wong jaman kakak dulu Alhamdulillah bisa keturutan semua kok. Sek sekarang jamanmu mau masuk sekolah saja susah, buat beli sabun mukamu saja ndak bisa? Sing sering istigfar karo istiqomah” Mungkin saat saya tengah tumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa. Saat masa transisi itu tengah saya alami, dan kebutuhan diri yang mulai meningkat. Keluargaku dalam keadaan dibawah kata kecukupan. Untuk makan sehari-harinya saja ibuku harus banting stir menjadi buruh batik tulis. Setiap hari beliau membatik helai demi helai kain lawon yang telah majikannya berikan. Dari pagi buta sampai petang menjelang beliau terus berpeluh dengan kompor minyak berukuran kecil dan canting ditangannya. Asap kompor kini telah bercampur dengan aroma tubuhnya. Bapak saya hanyalah seorang tukang kayu yang bekerja jika ada orderan dari pabriknya saja. Kebobrokan ekonomi yang dialami keluarga saya bermula ketika saya baru memasuki bangku SMK, ketika ba...

Mengejar Mimpi part 1

“kepadaku cinta dia datangkan bahagia Menghadirkan ada dari yang tiada Hanya sebait kata yang mengutara mampu membuatku jatuh cinta Dari monitor maya kini ceritanya nyata Pertemuan itu hanya ada aku kamu dan cinta kita” Pukul 11:45 Udara dingin tengah berdansa asik diiringi alunan gerimis manis yang meredam caruk maruk kendaraan yang tengah membelah jalanan. Terlihat seorang gadis cantik tengah berdiri di pelataran sebuah bangunan cagar budaya di tengah kota wali, ia hanya berdiam sembari sesekali menengok kearah kiri dan kanan jalan, menelusuri setiap sudutnya. Menelisik diantara puluhan kendaraan yang melaju dengan cepat, hatinya waswas. Entah sudah berapa kali arlojinya ia pelototi namun tetap saja seseorang itu tak juga muncul dihadapannya. 10 menit berlalu, 30 menit berselang ia masih saja berdiri dengan gerakan yang sama menoreh kearah kanan dan kiri jalanan. Hanya terdengar suara gesekan dedaunan kering yang tertiup angin, “ayo mau diantar kemana nduk?” tanya tu...

cinta dan perbedaan

“bagiku agamaku dan bagimu agamamu” “Cinta tetaplah cinta, yang menyatukan perbedaan” Aku dan kamu seperti air dan minyak yang dipersatukan di atas tungku perapian. Kita tak mungkin bersatu, bilapun dipaksakan salah satu antara aku atau kamu akan terluka. Mungkin kita berbeda, saat sepasang jiwa tengah menyembah Dzat yang sama dengan cara serupa Namun kita dipisahkan oleh tempat dan doktrin yang mengikat kita Aku dengan bangunan dan kitab suciku, dengan cara yang agamaku ajarkan Lalu kamu dengan cara dan waktu sembahyang yang berbeda sesuai ajaran agamamu Tapi kita satu, satu tujuan yang sama, menyembah Dzat Yang Maha Agung Tuhan kita satu namun cara kita yang berbeda kita terperangkap pada anugerah Tuhan bernama cinta Apakah cinta bersalah? Apakah kita berdosa? Apakah kita begitu nista? Apakah perbedaan melarang persatuan? Bukankah cinta adalah anugerah? Cinta tak bersalah. Cinta tak berdosa. Karena cinta adalah ketulusan dan kasih sayang Tetapi agam...

Milik Tuhan

Untuk Diah Novita Dewi, Temanku Semangatku masih membara, membakar udara pagi yang masih nakal menggelitik rasa malas. Langkahku pasti, menuju suatu tempat dimana akan ku habiskan seharian waktuku bersama teman-teman. Meskipun harus ku pijaki berkilo-kilo meter semerautnya karpen aspalan yang menghitam itu. Meskipun harus ku tanggalkan nyamannya selimut hangat bak dekapan ibu. Meskipun harus ku lawan rasa rinduku yang masih mengakar kepada kedua adik laki-lakiku, kedua jagoan mamah dan papah, adik yang selalu menjadi obat dari rasa lelahku. Yaa.. hampir setiap hari ketika sang ufuk timur masih termalu-malu dengan cantiknya bunga-bunga yang bermekaran, aku sudah berada di suatu tempat dengan keramaian suara klakson dan mesin-mesin canggih dengan bentuk serupa bernama jalanan. Tiada yang aneh dengan pagi itu, seperti biasa sebelum berangkat ke sekolah selalu aku sempatkan untuk berpamitan kepada mamah dan papah. Masih ku sempatkan melihat wajah kedua orang tuaku, kedua sosok yang ...

sepertiga malam

Image
masih pagi buta, sekitar sepertiga malam. udarapun masih sangat nakal menusuki setiap ruas-ruas tulang manusia, namun suara microfhone dari sebuah bangunan suci telah menggema sedari tadi. suara lantunan firman Tuhan yang memelodi syahdu. amboooy menyejukan jiwa. aku rindu, bahkan sangat rindu atas panggilan Tuhan kepada jiwa-jiwa yang telah lama menjauh. jiwa-jiwa yang telah lama mencari makna dari ajaran Tuhan yang bernama Islam, ajaran yang kian memudar didalam kanvas lukisan dunia modernitas. dunia yang telah bermetamorfosa menjadi dunia anti Tuhan. naudzubillah!! ketika golongan lain masih menjelajah mimpi-mimpi mereka dan selimut yang masih mendekap hangat tubuh mereka. kami telah mendapat perintah Tuhan untuk terbangun dari ketidaksadaran, mengangkat kedua kaki kami dari ranjang kemalasan, dan menadah kedua tangan kami terhadap berkah yang diberikan Tuhan. sepertiga malam itu, kami telah diperintahkan-Nya untuk menunaikan ibadah shaum, menahan nafsu dari kenikmatan d...